Sabtu, 19 Mei 2012

BUDAYA MENCONTEK


Mencontek, bukanlah hal baru bagi pelajar dan mahasiswa, bahkan mencontek telah lahir dari sebelum masa melenium ini. Secara garis besar, kita mempraktikan mencontek dari awal proses penempuhan jalur pendidikan, yaitu sudah dimulai dari taman kanak-kanak.
Karena, TK sekarang bukannya hanya diperuntukkan untuk sekedar mengenal warna, mengenal bentuk benda, jenis-jenis huruf dan angka, jenis-jenis hewan, bermain  dan bersosialisasi dengan lingkungannya saja, tetapi dewasa ini di TK anak telah dituntut untuk memiliki kemampuan kognitif yang menunjang mereka untuk masuk ke SD, seperti kemampuan menghitung, mengurang, membanca, dan dapat menyusun kata menjadi sebuah kalimat.
Miris bukan? Memang hal demikian tidaklah buruk bagi anak yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, namun bagi anak yang memiliki kemampuan yang tidak seberapa, hal demikian itu merupakan suatu hal yang sangat berat dan tidak bisa dipikul oleh anak tersebut, karena memang bukan itulah tugas perkembangan kognitif yang seharusnya mereka kerjakan. Sehingga, kecenderungan anak untuk meniru pekerjaan teman-teman mereka yang memiliki kemampuan di atas rata-rata sangatlah tinggi.
Tidak hanya sampai taraf TK saja, bahkan SD, SMP, SMA bahkan tingkat Universitas tidak luput dari virus mencontek yang telah membudaya di Indonesia ini. Kata membudaya tidak salah jika dituliskan pada kata sebelum mencontek, karena dari generasi ke generasi dari satu tingkatan jenjang pendidikan ke satu tingkatan jenjang pendidikan lainnya dari satu mata pelajaran ke mata pelajaran lainnya, bisa dipastikan kata mencontek tidak pernah absen.
Lantas, kalau sudah seperti ini siapa yang dapat disalahkan? Tuntutan zaman? Kurikulum yang terlalu tinggi? Atau masyarakat Indonesian yang memang malas dan tidak ingin berpikir?
Terlalu kompleks memang, kalau kita menentukan mana yang mengapa peserta didik memiliki budaya mencontek yang telah berakar dari generasi ke genarasi, karena hal demikian itu tidak dapat ditentukan hanya dari 1 aspek saja, tetapi harus dilihat dari berbagai aspek yang memang menjadi pondasi awal pembentukan pola pikir anak, mengapa melakukan hal demikian tersebut.
Maka dari itu, selain artikel ini disusun sebagai salah satu syarat tugas akhir mata kuliah Psikologi Pendidikin, penyusunan artikel ini juga sangat saya fokuskan untuk membahas apa sesungguhnya arti dari mencontek atau cheating itu sendiri? Apa penyebab utama peserta didik mencontek? Apa saja trik-trik peserta didik dalam mencontek? Dampak mencontek terhadap pertumbuhan dan perkembangan psikis anak? Bagaimana cara untuk meminimalisir dampak dari tugas-tugas perkembangan anak yang tidak terpenuhi terutama yang disebabkan oleh mencontek tersebut? Dan strategi apa yang bisa pendidik lakukan agar peserta didik tidak melakukan kamuplase tugas atau ujian?
Hal tersebut dikarenakan keingintahuan saya, kenapa kami sebagai pelajar selalu melakukan pencontekan disetiap mata pelajaran yang kami ikuti, dengan demikian dapat diharapkan pembaca dan saya pribadi mampu mengetahui apa itu sebenarnya arti dari mencontek atau cheating, mampu mengetahui alasan-alasan umum peserta didik melakukan kegiatan meniru tersebut, serta mengetahui berbagai macam trik-trik yang sering dibuat oleh peserta didik agar mengelabuhi pendidik, mampu mengetahi dan meminimalisir dampak perkembangan psikis anak dalam menjalankan tugas-tugas perkembangannya, dan pendidik mampu mengetahui cara meminimalisir budaya mencontek dikalangan peserta didik.

Definisi Mencontek atau Cheating

Webster’s New York Dictionary Donald D Carperter mencontek secara sederhana dapat dimaknai sebagai penipuan atau melakukan perbuatan tidak jujjur dan mencontek dapat dimaknai sebagai perilaku kejujuran akademik.
Menyontek atau menjiplak atau ngepek menurut Kamus Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwadarminta adalah mencontoh, meniru, atau mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya.
Menurut Dellington dalam buku yang ditulis oleh Intan Irawati tahun 2008, mencontek berarti upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak fair (tidak jujur).
Sedangkan menurut Eric M Anderman dan Tamera B Murdock memberikan definisi yang lebih terperinci, mereka menyatakan bahwa perilaku mencontek digolongkan dalam tiga kategori, yaitu:
1.        Memberikan, memberikan atau menerima informasi.
2.        Menggunakan materi yang dilarang atau membuat catatan atau ngepek.
3.        Memanfaatkan kelemahan seseorang, prosedur atau proses untuk mendapatkan keuntungan dalam tugas akademik.
       Menurut Kelley R Taylor mencontek didefinisikan sebagai mengikuti sebuah ujian dengan melalui jalan yang tidak jujur, menjawab pertanyaan dengan cara yang tidak semestinya, yaitu melanggar aturan dalam ujian dan kesepakatan[1].
       Dalam artikel yang ditulis oleh Alhadza (2004) kata menyontek sama dengan cheating. Beliau mengutip pendapat Bower (1964) yang mengatakan cheating adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis.
       Jadi, dari beberapa paparan yang telah ditulis oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa menyontek adalah suatu perbuatan atau cara-cara yang tidak jujur, curang, dan menghalalkan segala cara agar mendapatkan keberhasilan akademis tanpa harus berpikir atau mengerjakan sebuah tuntutan soal atau tugas akademik.

FAKTOR MENCONTEK
      
       Menurut Alhadza (2004) dalam makalahnya mengenai masalah menyontek yang ia istilahkan dengan cheating. Ia menyebarkan kuesioner dengan pertanyaan terbuka kepada sekitar 60 orang teman mahasiswa di PPS UNJ. Dari hasil kuisioner tersebut didapatkan jawaban tentang alasan seseorang melakukan cheating, yaitu[2]:
1.        Karena terpengaruh setelah melihat orang lain melakukan cheating meskipun pada awalnya tidak ada niat melakukannya.
2.        Terpaksa membuka buku karena pertanyaan ujian terlalu membuku (buku sentris) sehingga memaksa peserta ujian harus menghapal kata demi kata dari buku teks.
3.        Merasa dosen/guru kurang adil dan diskriminatif dalam pemberian nilai.
4.        Adanya peluang karena pengawasan yang tidak ketat.
5.        Takut gagal. Yang bersangkutan tidak siap menghadapi ujian tetapi tidak mau menundanya dan tidak mau gagal.
6.        Ingin mendapatkan nilai tinggi tetapi tidak bersedia mengimbangi dengan belajar keras atau serius.
7.        Tidak percaya diri. Sebenarya yang bersangkutan sudah belajar teratur tetapi ada kekhawatiran akan lupa lalu akan menimbulkan kefatalan, sehingga perlu diantisipasi dengan membawa catatan kecil.
8.        Terlalu cemas menghadapi ujian sehingga hilang ingatan sama sekali lalu terpaksa buka buku atau bertanya kepada teman yang duduk berdekatan.
9.        Merasa sudah sulit menghafal atau mengingat karena faktor usia, sementara soal yang dibuat penguji sangat menekankan kepada kemampuan mengingat.
10.    Mencari jalan pintas dengan pertimbangan daripada mempelajari sesuatu yang belum tentu keluar lebih baik mencari bocoran soal.
11.    Menganggap sistem penilaian tidak objektif, sehingga pendekatan pribadi kepada dosen/guru lebih efektif daripada belajar serius.
12.    Penugasan guru/dosen yang tidak rasional yang mengakibatkan siswa/mahasiswa terdesak sehingga terpaksa menempuh segala macam cara.
13.    Yakin bahwa dosen/guru tidak akan memeriksa tugas yang diberikan berdasarkan pengalaman sebelumnya sehingga bermaksud membalas dengan mengelabui dosen/guru yang bersangkutan.
Dari sekian banyak alasan yang dituangkan diatas dapat disimpulkan bahwa  alasan siswa mencontek adalah karena adanya tuntutan untuk menjawab pertanyaan yang memang jawabannya berorientasi pada buku, sehingga menyulitkan pelajar untuk menghapal dan kadang lupa, sehingga peserta didik membuka buku atau bertanya pada teman yang duduk disebelahnya, hal demikian juga dilakukan karena tidak adanya pengawasan yang ketat oleh pengawas ujian, dengan demikian peserta didik menjadi mudah untuk melancarkan aksi mencontek.
Tidak mungkin penulis pungkiri, bahwa penulis juga sering melakukan kegiatan ini bukan karena pulis tidak belajar atau tidak percaya diri atas jawaban yang penulis buat, tetapi penulis melakukan itu karena penulis memang benar-benar tidak mengetahui dan tidak memahami maksud dari pertanyaan itu sehingga mengharuskan penulis untuk bertanya kepada teman atau mbah google untuk mengetahuinya.
Tetapi, selain itu ada pula alasan lain peserta didik mencontek. Faktor lain adalah orang tua. Mengapa orang tua? Karena, orang tua memiliki pengaruh besar dalam proses belajar anak. Orangtua juga memiliki macam-macam trik untuk mendidik anaknya, tapi tidak sedikit pula orang tua yang tidak memperhatikan anak-anaknya. Hal itu merupakan salah satu pengaruh yang membuat prestasi peserta didik menurun, apalagi bagi anak-anak BROKEN HOME atau yang orang tuanya bercerai, mereka (anak-anak) akan mengalami penurunan  semangat dalam menempuh pendidikan dan cenderung bermalas-malasan, tidak memperhatikan pelajaran yang dijelaskan dan mencontek ketika ulangan tiba.
Selain, anak yang bermasalah pada kondisi keluarganya, ada pula orang tuan yang memberikan tekanan kepada anak, contohnya saja hina-an hina-an  jika anaknya mendapat nilai jelek, padahal itu akan membuat kondisi anak semakin menurun, karena tekanan mental yang tidak siap, sehingga anak berpikir “dari pada saya dimarahi, lebih baik saya mencontek”. Oleh, karena itu sebagai orang tua, seharusnya tidak memberikan tekanan yang berlebihan kepada anak, karena setiap anak pasti memiliki potensi mereka masing-masing.

TRIK-TRIK MENCONTEK

Sebagai pelajar tentu penulis juga mengetahui berbaagai trik yang dilakukan para peserta didik untuk melancarkan aksi mencontek dan inilah berbagai trik yang biasanya dilakukan.
1.        Membuat catatan sekecil mungkin, agar tidak diketahui dan mudah disembunyikan.
2.        Membuat fotocopyian materi yang diujikan sekecil mungkin, agar memudahkan penyontek untuk menjalankan aksinya.
3.        Melihat pada buku sumber secara langsung, cara ini sebenarnya sangat beresiko apalagi jika posisi tempat ujian tidak mendukung.
4.        Bertanya pada “mbah google”. Ya di zaman yang canggih ini tidak dipungkiri bahwa aksi pencontekan juga tidak bisa dipisahkan, karena segala jenis macam soal yang ingin diketahui jawabannya, hanya tinggal diklik saja dalam Google, dan jawaban pun akan diketahui dengan mudah.
5.        Bertanya pada temen yang duduk di samping kanak, kiri, depan, belakang. Cara tersebut memang terlihat kuno, tapi itu adalah trik yang paling saya sukai.
Disini penulis tulis, agar para guru/dosen mengetahui trik-trik apa saja yang sering dilakukan oleh peserta didiknya, sehingga para guru/dosen lebih waspada dalam melakukan pengawasan terhadap peserta didik. Dan bagi peserta didi disarankan untuk tidak meniru trik-trik diatas karena taktik tersebut telah diketahui oleh guru/dosen yang bersangkutan.

FENOMENA MENCONTEK

Seperti yang telah dikatakan diatas bahwa, fenomena mencontek sering terjadi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah atau madrasah. Karena, sudah dimaklumi bahwa orientasi belajar siswa-siswi di sekolah hanya untuk mendapatkan nilai tinggi dan lulus ujian, lebih banyak kemampuan kognitif dari afektif dan psikomotor, inilah yang membuat mereka mengambil jalan pintas, tidak jujur dalam ujian atau melakukan praktek mencontek.
Proses belajar yang orientasinya hanya untuk mendapatkan nilai menurut Megawangi (2005), biasanya hanya melibatkan aspek kognitif (hafalan dan drilling), dan tidak melibatkan aspek afektif, emosi, sosial, dan spiritual. Memang sulit untuk mengukur aspek-aspek tersebut, sehingga bentuk soal-soal pasti hafalan atau pilihan berganda (kognitif). Pelajaran agama, PPKN, dan musik yang seharusnya melibatkan aspek afektif, ternyata juga di "kognitifkan" (hafalan) sehingga tidak ada proses refleksi dan apresiasi.
Karena, menghafal buku teks (yang memang diwajibkan untuk bisa menjawab soal ujian), adalah skill yang paling tidak penting bagi manusia. Jadi, mereka di didik hanya menjadi robot; tidak ada inisiatif, dan pasif. Manusia ini biasanya tidak dapat berpikir kritis, dan tidak dapat menganalisis permasalahan, apalagi mencari solusinya, sehingga mudah dipengaruhi dan diprovokasi untuk melakukan hal-hal yang negatif. (Megawangi, 2005)[3].

DAMPAK MENCONTEK

Dampak dari kebiasaan mencontek adalah anak menjadi tidak mandiri / suka bergantung pada orang lain, menjaadi mudah putus asa, dan gampang untuk ditipu[4].
Suka mencontek berarti dia selalu bergantung pada orang lain, termasuk buku atau referensi lainnya, yang menyebabkan anak menjadi tidak mandiri dan seandainya orang ini kelak dewasa dan bekerja, dia akan sulit untuk bekerja sendiri, karena harus selalu ditemani dan ada pembimbing. Sedangkan kalau kerjanya kelompok, dia hanya bisa mengandalkan orang lain. Padahal seharusnya, sebagai individu kita dituntut untuk mampu mandiri.
Selanjutnya adalah mudah putus asa / mudah menyerah. Orang yang suka bergantung pada orang lain, lalu akan kebingungan saat tidak ada satu orangpun yang bisa menolongnya dan dimintai pertolongan. Sehingga ia menjadi ketergantungan dan akhirnya dia akan menjadi mudah putus asa, menyerah, dsb. Sehingga tidak adanya kegiatan yang berlanjut karena tidak ada orang lain disampingnya, padahal tidak semua orang bisa selalu ada disampingnya.
 Dan yang selanjutnya, anak akan gampang ditipu atau dibohongi orang lain. Pertama kali seseorang minta pertolongan pada orang lain, mungkin orang yang dimintai pertolongan akan memberikan pertolongan. Namun semakin sering dia minta pertolongan, lama2 kalau orang yang dimintai pertolongan tidak ikhlas karena Allah SWT, akan menyebabkan orang tersub menjadi sebel dan malah memberikan jawaban yang tidak benar dan cenderung menyesatkan.

CARA MEMINIMALISIR KEADAAN

Pengaruh mencontek sudah sangat jelas dampak negatifnya kepada anak, sehingga diperlukan pencegahan dini agar kegiatan mencontek bisa terminimalisir. Upaya-upaya untuk meminimalisir kebiasaan mencontek sebagai berikut.
Pertama, guru memberikan ujian lisan. Dengan cara ini murid langsung berhadapan dengan guru sehingga murid sulit untuk berbuat nekat(mencontek). Hasil yang diperoleh pun merupakan hasil yang murni dari pemikiran murid. Kedua, seiring perkembangan teknologi, informasi sangat mudah diperoleh. Oleh karenanya, untuk mencegah penyalagunaan teknologi itu, sewaktu diadakan ujian siswa tidak boleh membawa alat komunikasi ke dalam kelas. Ketiga, melakukan pembauran peserta didik ketika mengikuti ujian. Pembauran ini terdiri dari peserta didik dari semua tingkatan(kelas). Keempat, guru harus menanamkan dan meningkatkan kesadaran di kalangan peserta bahwa kegiatan mencontek itu tidak baik dan tidak terpuji[5].
Dengan demikian, diharapkan bahwa peserta didik kedepannya tidak akan melakukan pencontekan lagi, karena mereka telah memiliki kesadaran dan ketauan mereka tentang dampak negatif dari mencontek itu sendiri. Tetapi, hal tersebut tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak adanya kerjasama yang solid antara peserta didik, pendidik dan wali murid(dalam hal ini berperan sebagai kontrol anak di rumah).


DAFTAR PUSTAKA

http://abstrak.digilib.upi.edu/Direktori/TESIS/BIMBINGAN_DAN_KONSELING/0808158__DODY_HARTANTO/T_BP_0808158_Chapter2.pdf

Alhadza, Abdullah. 2004. Makalah Masalah menyontek (Cheating) di Dunia Pendidikan

http://ariesnalu.blogspot.com/2012/05/mencontek-menjadi-suatu-kebiasaan.html


http://suryahandayana.blogspot.com/2011/09/dampak-mencontek_04.html


[1]http://abstrak.digilib.upi.edu/Direktori/TESIS/BIMBINGAN_DAN_KONSELING/0808158__DODY_HARTANTO/T_BP_0808158_Chapter2.pdf
[2] Alhadza, Abdullah, 2004, Masalah menyontek (Cheating) di Dunia Pendidikan
[4] http://suryahandayana.blogspot.com/2011/09/dampak-mencontek_04.html
[5] http://ariesnalu.blogspot.com/2012/05/mencontek-menjadi-suatu-kebiasaan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar